Romawi Kuno/Seni
Dari Wikibooks Indonesia, sumber buku teks bebas berbahasa Indonesia
Seni Romawi
berkembang dari seni bangsa Etruska, karenanya pada masa awal, seni
Romawi sangat mirip dengan seni Etruska. Maka dari itu, seni Romawi juga
berhubungan erat dengan seni Yunani. Roamwi baru memiliki seni dengan
ciri khas sendiri sejak sekitar tahun 500 SM dengan berdirinya Republik
Romawi. Bangsa Yunani lebih tertarik pada konsep yang ideal, yaitu
makhluk-makhluk yang indah dan sempurna, sedangkan bangsa Romawi lebih
tertarik pada realitas. Bangsa Romawi senang membuat patung yang
menggamabarkan tokoh tertentu dengan sangat mirip dan realistis.
Banyak orang Romawi juga percaya bahwa membuat wajah yang bagus pada
patung seseorang akan membuat arwah mereka tenang setelah mati dan tidak
bergentayangan. Sehingga, selama masa Republik dan Kekaisaran Romawi,
banyak sekali patung yang dibuat.
Sekitar tahun 200 SM, Romawi mulai menaklukan Yunani, dan hal ini
sangat mempengaruhi gaya seni mereka. Ketika pasukan Romawi memasuki
Yunani, mereka melihat banyak sekali karya seni di kuil, di pemakaman,
di alun-alun kota, dan di rumah-rumah. Mereka sangat mengagumi karya
seni Yunani. Bangsa Romawi pun mengambil banyak karya seni Yunani, baik
dengan cara membelinya, mencurinya, atau kadang memeprolehnya dari orang
Yunani sebagai hadia). Bangsa Romawi juga banyak membawa pematung
Yunani (kadang dengan cara memperbudak mereka) ke Romawi supaya mereka
bisa membuat lebih banyak karya seni untuk Romawi.
Seni Romawi pada abad pertama dan kedua Masehi masih meneruskan gaya
dari masa sebelumnya. Namun seniman Romawi mulai menambahkan fungsi seni
sebagai propaganda untuk menunjukkan pada rakyat Romawi apa yang
diinginkan oleh kaisar untuk diketahui atau dipikirkan oleh rakyatnya,
beberapa contohnya adalah Pelengkung Titus dan Tiang Traianus.
Ada banyak lukisan dinding pada masa ini. Lukisan dinding pada abad
pertama Masehi kadang dibagi menjadi beberapa gaya berbeda. Gaya pertama
adalah lukisan dinding yang membuat dinding rumah nampak seperti dibuat
dari marmer, meskipun pada kenyataannya itu dibuat dari bahan yang jauh
lebih murah dariapda marmer. Gaya kedua adalah lukisan dinding yang
dihiasi dekorasi bunga, burung, tanaman, atau buah-buahan. Gaya ketiga
adalah lukisan dinding yang dihiasi gambar-gambar manusia. Di salah satu
vila di kota Pompeii, ditemukan adanya lukisan dinding dengan gambar
orang-orang (dalam ukuran sebenarnya) yang sedang mengobrol dan duduk.
Selain itu, ada pula berbagai variasi lainnya.
Bangsa Galia menggabungkan gaya seni mereka dengan gaya Romawi. Begitu juga bangsa Briton, Spanyol, Kartaghe, Punisia, dll.
Pada abad ketiga Masehi, beberapa konsep baru bermunculan dalam seni
Romawi. Yang pertama adalah peperangan dengan kaum Jerman di utara. Hal
ini ikut diabadikan dalam seni (kadang dengan gaya yang berlebihan),
seperti misalnya pada Tiang Markus Aurelius, yang memperlihatkan
orang-orang yang kepalanya dipotong atau isi perutnya dikeluarkan.
Contoh lainnya adalah Pelengkung Severus. Yang kedua adalah penggunaan
bor yang mulai menggantikan pahat. Hal ini membuat pembuatan patung
menjadi lebih mudah dan cepat. Patung Romawi pun terlihat berbeda. Yang
ketiga adalah meningkatnya perhatian ada jiwa, mungkin akibat pengaruh
agama Nasrani. Hal ini ditunjukkan dengan patung-patung yang lebih
menekankan pada mata (jendela jiwa), kadang dengan pandangan ke atas
(surga). Bagian tubuh pun dianggap kurang penting sehingga para pematung
kadang membuat bagian tubuh lainnya secara tidak akurat, kadang tangan
dan kakinya terlalu pendek, atau kepalanya terlalu besar. Gaya ini terus
berlanjut sampai kejatuhan Romawi.
Tembikar Romawi diawali dengan meniru gaya tembikar Etruska, namun
kemudian berkembang dengan gayanya sendiri. Secara umum, tembikar di
Italia cenderung memiliki satu warna dan dekorasinya pun dicetak, tidak
seeprti tembikar Yunani yang hiasannya dilukis. Pada masa republik,
kebanyakan tembikar dibuat di dekat tempat tembikar tersebut akan
digunakan. Namun pada masa kekaisaran, mulai berdiri pabrik-pabrik
tembikar, yang memproduksi tembikar untuk kemudian dijual ke berbagai
tempat. Ada beberapa pabrik di Italia, di dekat kota yang disebut
Arezzo, dan beberapa lainnya di Prancis selatan. Tembikar jenis ini
disebur tembikar Arretine.
Setelah menaklukan Asia Barat, Romawi pun mengembangkan seni tembikar
mereka dengan belajar dari para seniman Asia Barat. Jika sebelumnya
tembikar Romawi berwarna hitam, kini warnanya menjadi merah. Bangsa
Roamwi juga belajar cara membuat dekorasi pada tembikar dengan cara
mencetaknya, yang ternyata lebih cepat dan mudah daripada dengan cara
dilukis. Dengan inovasi ini, pabrik-pabrik tembikar dapat menghasilkan
barang dengan kualitas yang bagus namun dengan harga yang murah.
Tembikar jenis ini menjadi sangat populer, dan pabrik-pabrik tembikar
memperoleh keuntungan yang berlipat ganda. Tembikar jenis ini disebut
tembikar Galia Selatan.
Ketika tahu bahwa tembikar Arretine dan Galia Selatan bisa
mendatangkan banyak uang. Orang-orang pun menirunya di berbagai tempat,
dan dimulai sejak masa masa kaisar Vespasianus, sekiat 70 M. Di Spanyol,
tiruan ini disebut Terra Sigillata Hispanika, sedangkan di Afrika
Utara, disebut Slip Merah Afrika. Tembikar Afrika ini sangat sukses,
bahkan mampu mengalahkan ketenaran tembikar Galia Selatan. Lima puluh
tahun sejak pertama kali diproduksi, tembikar Slip Merah Afrika telah
digunakan oleh hampir semua orang di seluruh penjuru Kekaisaran Romawi.
Para arkeolog menemukan tembikar jenis ini di Inggris dan Denmark,
Austria, Spanyol, Yunani, dan tentu saja di Afrika Utara. Sementara di
bagian timur Romawi, orang-orang lebih suka menggunakan Sigillata.
Slip Merah Afrika terus menjadi tembikar yang paling mewah dan utama
di Afrika Utara dan Eropa selama kurang lebih 400 tahun, bahkan setelah
kejatuhan Romawi. Di Afrika Utara, orang-orang tetap memproduksinya di
bawah kekuasaan bangsa Vandal, yang memerintah pada tahun 400-an sampai
500-an M. Barulah pada abad ke-6 M, mereka membuat tembikar dengan gaya
baru setelah adanya penaklukan oleh bangsa Arab, yang ikut
memperkenalkan tembikar dengan lapisan seperti kaca.